Citrus

Waktu terus berjalan kedepan sedang aku masih disini ditempat ini menatap sepi pada jalanan kota malam hari. Semua tampak tidak baik – baik saja entah itu perasaan atau hati yang ingin berteriak tapi tak pernah tersampaikan.

Harapan sering kali pupus ditengah pengharapan, aku lagi – lagi hanya bisa duduk menepi, sendiri menatapi langit malam hari berbicara pada hampanya udara atau berbincang dengan lampu taman yang sama – sama merasa kesepian.

Aku kembali, kali ini aku berada disebuah ruangan yang kusebut kamar, menatap dinding – dinding nya dari kiri kekanan kiri kekanan begitu seterusnya, mereka seolah mentertawakan aku yang tiba – tiba menangis tanpa tahu kenapa dan mengapa.

Tuhan…jika memang semua sudah menjadi takdirnya, harus seperti ini jalan ceritanya apalagi yang bisa aku perbuat Tuhan? Sedang usaha dan Do’a tak pernah putus kulakukan.

Mugshoot Challenge

Apa pendapat kalian tentang mugshoot challenge?

Biasanya orang berlomba-lomba untuk menutupi luka. Tetapi belakangan, orang justru sering bertingkah seolah mereka memiliki luka. Sakit adalah legitimasi penting yang diperlukan pada saat ini. Semua orang merasuki kesakitan bukan pada tempatnya. Giat sekali orang-orang mencari pembuktian bahwa mereka memang benar-benar sakit.

Zaman memang makin edan. Dunia menjadi terbalik. Yang tertutup dibuka, yang mesti dibuka malah disimpan rapat-rapat.

Ini zaman di mana yang waras mesti melihat dengan se-cerdik-cerdiknya. Supaya apa? Supaya tidak salah menaruh simpati dan empati. Agar tidak ada lagi yang namanya patah hati. Dan akan lebih baik kalau kita semua sadar dan berhati-hati.

#katakulohya

???

Katanya kita bebas untuk mengungkapkan apa yang kita rasain, baik lah..

Pernah tidak kalian ngerasa kesel sama orang yang bilang ” lihat tuh orang dibawah kamu, masih ada orang yang lebih menderita dari kamu”

Dan sumpah aku kesel banget kalau ada orang yang bilang begitu, ehm.. Gak tau ya, mungkin maksudnya baik buat memotivasi, tapi enggak gitu.. Caranya.

Bisa enggak, kita enggak usah ngebandingin penderitaan kita dengan orang lain? Tahu sendirikan setiap manusia punya fasenya masing-masing, dan itu enggak bisa dijadikan tolak ukurnya.

Mau bilang pemikiran ku aneh lagi?? Ya memang seaneh itu.. Aku juga gak ngerti sama diri aku sendiri.

Nyemangatin diri sendiri

Dari dulu emang gak pinternya namanya matematika, hitung2an dan apalah itu…tapi kuliah jurusan akuntansi, disitu aku kadang pengen ngetawain diri sendiri. Tapi aku lanjutin pendidikan bukan berarti buat ngejar nilai tapi belajar buat jadi orang berpendidikan, jadi diajak ngomong sama orang nyantol dan gak malu2in.

Masih inget bgt dulu ketika SD enggak dimasukin kelompok sama temen karena nilai matematika jarang bagus, padahal waktu itu lagi belajar bahasa indonesia 😦

Alberst Enstein pernah bilang jangan pernah nilai ikan dari kemampuanya memanjat, sampai kapanpun dia akan percaya bahwa dirinya bodoh.

Tapi aku gk pernah nyerah, aku keluar dari zona nyaman meski jalannya emang enggak mudah, dan sampailah di smt 6 jurusan akuntansi, dan sekarang lagi pusing-pusingnya (curhat).

Bersambung….

Dan akhirnya………….

Rebahan aja vy

Gak usah ambil pusing 🙂

Semua baik-baik saja

Tak apa tak punya bahu untuk bersandar atau ruang untuk bercerita, ada tinta juga lembaran buku.

Si aku kecil bilang, tidak apa bersedih tidak apa menangis. Siapa tahu tumbuh pucuk hijau dari pelupuk mata yang basah. Tenang air sungai mengalir didenyut nadimu. Bermuaralah pada sudut-sudut dada yang tajam…deras bercucuran, menggenang serupa samudra.

Tidak apa-apa

Pelan-pelan sini kupeluk

Semua akan baik-baik saja;

Evy_Veronica~

Nyatanya aku tak berhasil meski aku telah mencoba menjadi orang lain,aku lebih suka menikmati waktuku sendiri”menjadi orang lain,seseorang yang awalnya pendiam lalu dipaksa menjadi orang yang sering banyak bicara nyatanya sangat sulit.

Aku benci mengakui aku tak pandai bicara