Aru(nika)

Meski letih, tetap kupaksakan mata ini menatap cahaya lekat yang temaram, kelak agar hari-hari ku tak lagi runtuh menyeluruh dan kembali jatuh.

Layak nya terang, yg menunjukkan jalan agar ku tak tersesat dalam hitam pekatnya malam, aku berjalan hingga sang fajar tiba dan terlihat oleh mata juga secercah asa

Lelah sudah, semua rasa telah kucoba dari yang buatku bahagia hingga yang buat ku kecewa, yg melahirkan tawa juga luka, berbalut senyum palsu juga tawa yang lara

Aku berjalan kearah arunika, bukan berarti menentangnya, aku hanya ingin berbagi cerita pun tak hanya kepada fajar dan senja…

Kepada swastamita yang tenggelam di bawah garis cakrawala, mata ini sudah setengah hampir terpejam terlalu lelah hadapi hidup yang indah katanya, namun beriringan dengan air mata

Aksara ku tumpah ruah, bisa karena merayakan pertemuan atau bisa jadi kehilangan, aku sadar tiap lembar per lembar buku yang telah dibubuhkan tinta, itu tercipta karena kisah kita…

Hujan jadi saksi atau bisa jadi temanku meramu kata, juga secangkir kopi yang selalu ambil bagian menjadi penghangat saat dinginnya malam mulai mendekat dan memeluk erat.

Aku terus berdialog,

pun;

meski hanya dinding kamar yang mendengar.

Evy_veronica~ #poem-poem~

Terimakasih, sudah membaca :’)

Advertisements

23 thoughts on “Aru(nika)

      1. Justru di situ seninya. Mahasiswa sastra, barangkali malah tidak begini… Mereka malah cenderung ke teori sastra, atau teori kritik sastra. Anatomi sastra kukira… Ya semiotika, kira-kira gitu.

        Oh… Saudaranya senja ya? Atau kembarannya sunset?

        Like

      2. Kalau memang merasa salah jurusan, kenapa tidak putar haluan saja sebelum terlalu jauh?

        Dulu jurusan saya juga tidak absen dengan berhitung, membuktikan dan menurunkan teorema… Tapi saya juga suka menulis… Tak ada yang salah dengan itu.

        Like

      3. Perlu dipikirkan kelanjutannya juga lho… Tidak cuma yang sudah terlewat. Memang banyak mahasiswa yang merasa salah jurusan di semester 3, bahkan baru merasa ketika semester 6. Banyak… Dan apa yang terjadi dengan mereka? Bisa mbak kira-kira saja.

        Kurasa, malah justru salah kalau tidak menulis. Kalau saya bisa… Saya akan menyuruh semua orang untuk menulis.

        Like

      1. Siapa itu aan mansyur? Seorang pujangga kah?

        Sepertinya aku harus berlatih terus nulis puisi. Mungkin Evy bisa sesekali buat post tentang bagaimana cara menulis puisi seperti ini. Ya, semacam panduannya.

        Kalau aku sih, senangnya menulis puisi yang punya akhiran yang sama. Seperti kata malam, kelam, suram, sulam, selam dan semisalnya.

        Coba cek post ini :

        https://ishfah7.wordpress.com/2018/10/19/bagaimana-cara-aku-membuat-puisi-berima/

        Sebagai yang sering menulis puisi, tolong Evy kasih saran dan kritiknya dari post itu.

        Like

      2. Aan mansyur cukup terkenal buat kalangan pecinta puisi, puisi2 nya bikin kita mikir keras, “Melihat api bekerja” itu salah satu bukunya

        Siap, kapan2 buat postingan cara menulis puisi.

        Saya sudah baca kak, puisi nya bagus

        Like

  1. Hai, Ver.
    Aku mampir setelah liat notif. Muncul like di cerpenku.

    Kayaknya kamu bergerak di bidang puisi. Aku izin bongkar-bongkar ya. Soalnya sudah lama nggak berkutat sama puisi dan butuh banyak baca supaya bisa nulis lagi heheheee

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s